Share

Viral Tren Quiet Quitting, Bentuk Perlawanan Para Pekerja dengan Sistem Kerja Berlebihan

Martin Bagya Kertiyasa, Okezone · Kamis 29 September 2022 12:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 29 612 2677300 viral-tren-quiet-quitting-bentuk-perlawanan-para-pekerja-dengan-sistem-kerja-berlebihan-QgkqBiQPQh.jpg Ilustrasi Tren Quiet Quitting. (Foto: Shutterstock)

SEBAGAI pekerja, kita memang harus mengerjakan apa yang diperintahkan oleh atasan. Tapi, terkadang kita harus mengerjakan tugas yang sebenarnya bukan bagian dari job deskripsi kita.

Memang, menjadi hal wajar ketika hal tersebut harus kita lakukan sesekali. Tapi, ketika tugas tersebut diberikan terus menerus tanpa adanya kebijakan penyesuaian gaji, tentu saja tidak adil untuk karyawan tersebut.

Tidak heran, jika tagar quiet quitting mengemuka sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem kerja yang berlebihan, hal itu pun disuarakan terutama di TikTok. Istilah quiet quitting pertama kali muncul di media sosial pada awal 2022.

Tren quiet quitting menggambarkan fenomena karyawan yang menolak bekerja melebihi tanggung jawab mereka. Melalui tren ini, orang-orang ingin menyuarakan pentingnya memberikan batasan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Biar lebih paham, simak arti, penyebab, dan dampak quiet quitting pada kesehatan mental, seperti dilansir dari KlikDokter.

Awalnya, tren ini banyak dipromosikan oleh karyawan yang memiliki beban kerja berintensitas tinggi. Pekerjaan yang sangat menyita waktu membuat mereka sulit mengembangkan diri di luar pekerjaan dan memperoleh kehidupan yang seimbang.

Media sosial lantas membuat tren quiet quitting menyebar luas dan diterima dengan cepat oleh beragam pekerja lintas profesi. Banyak orang yang merasa senasib ikut tergerak menyuarakan semangat quiet quitting.

Pekerja Kantoran

Orang-orang yang melakukan quiet quitting tidak melakukan resign alias keluar dari pekerjaan mereka. Disampaikan Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog, orang yang melakukan quiet quitting hanya membatasi diri untuk tidak bekerja secara berlebih dan melakukan apa yang menjadi tugasnya saja.

Menurut Paula Allen dari Research and Total Wellbeing at LifeWorks, orang yang melakukan quiet quitting enggan melakukan kerja lembur. Mereka juga tidak membalas email di luar waktu kerja.

β€œCiri orang yang melakoni quiet quitting berikutnya, yaitu bekerja dan pulang tepat waktu. Lalu, mereka cenderung tidak berminat dengan promosi jabatan sehingga tidak melakukan usaha berlebih untuk mendapatkannya,” kata Paula.

Terdapat beragam penyebab seseorang melakukan quiet quitting, di antaranya:

Upah yang Tidak Seimbang

Lewat tren quiet quitting, makin banyak pekerja yang sadar bahwa upah mereka tidak sebanding dengan beban kerja yang harus dipenuhi. Perusahaan terus mengupayakan tambahan pekerjaan, tetapi tidak memberikan imbalan ataupun bonus yang sepadan. Hal ini mendorong banyak orang menggalakkan quiet quitting.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Pekerjaan yang Berlebihan

Kenyataannya, ada banyak karyawan yang bekerja di luar kontrak yang telah disepakati. Hal ini dilakukan perusahaan untuk memenuhi tuntutan dan kebutuhan bisnis.

Orang yang melakukan quiet quitting akan memilih untuk tidak melakukan tugas-tugas di luar tanggung jawab mereka. Mereka umumnya tidak bersedia bekerja hingga larut malam, datang lebih awal ke kantor, ataupun menghadiri pertemuan di luar pekerjaan.

Konflik Antara Pekerjaan dan Kehidupan Pribadi

Popularitas tren quiet quitting menunjukkan ada banyak orang yang lelah menjalani rutinitas pekerjaan yang padat, tetapi di saat bersamaan tidak leluasa menjalani kehidupan pribadi. Ada banyak orang yang membutuhkan jeda dan waktu istirahat dari pekerjaannya untuk dapat menata hidup. Jeda juga diperlukan agar bisa lebih siap bekerja di keesokan harinya.

Merasa Kurang Dihargai

Elena Touroni, PhD., konsultan psikologi sekaligus pendiri the Chelsea Psychology Clinic, mengatakan perubahan sikap yang terjadi pada pekerja bisa disebabkan mereka merasa pekerjaannya kurang dihargai.

Menurutnya, ada banyak pekerja yang merasa telah berusaha memenuhi ekspektasi atasan dan perusahaan, tetapi kurang mendapatkan penghargaan, baik dalam bentuk bonus, tambahan gaji, maupun pengakuan. Perlahan, kondisi ini bisa merusak mental dan mengikis motivasi dalam bekerja sehingga mereka melakukan quiet quitting.

Efek Pandemi Berkepanjangan

Efek pandemi Covid-19 yang berkepanjangan dinilai bisa mendorong seseorang melakukan quiet quitting. Rasa bosan, kecemasan, dan stres selama menjalani work from home bisa menyebabkan seseorang merasa perlu melakukan quiet quitting.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini