Share

Tren Quiet Quitting, Psikolog Ungkap Manfaatnya bagi Pekerja

Martin Bagya Kertiyasa, Okezone · Kamis 29 September 2022 13:32 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 29 612 2677319 tren-quiet-quitting-psikolog-ungkap-manfaatnya-bagi-pekerja-gMEghyu0pB.jpg Ilustrasi Tren Quiet Quitting. (Foto: Shutterstock)

TAGAR quiet quitting mengemuka di TikTok sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem kerja yang berlebihan. Istilah quiet quitting pertama kali muncul di media sosial pada awal 2022.

Tren quiet quitting menggambarkan fenomena karyawan yang menolak bekerja melebihi tanggung jawab mereka. Melalui tren ini, orang-orang ingin menyuarakan pentingnya memberikan batasan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Biar lebih paham, simak arti, penyebab, dan dampak quiet quitting pada kesehatan mental.

Awalnya, tren ini banyak dipromosikan oleh karyawan yang memiliki beban kerja berintensitas tinggi. Pekerjaan yang sangat menyita waktu membuat mereka sulit mengembangkan diri di luar pekerjaan dan memperoleh kehidupan yang seimbang.

Menurut Psikolog Ikhsan, efek quiet quitting sebenarnya cukup baik. Soalnya, kesadaran ini bisa membuat seseorang membuat batasan yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Stres di Kantor

“Hal ini bisa bantu menurunkan stres bahkan burnout pada individu. Karena dia dapat melakukan kegiatan self care lain sehingga bisa lebih fokus kepada diri sendiri ketimbang pada pekerjaannya,” jelas Ikhsan seperti dilansir dari KlikDokter.

Meski begitu, bak pedang bermata dua, quiet quitting nyatanya juga bisa berdampak buruk pada kesehatan mental. Ketika menjalani quiet quitting, kamu bisa memiliki kecenderungan tidak memberikan hasil yang maksimal saat bekerja. Hal ini bisa berdampak pada tingkat kepuasan kerja.

Kalau sudah begini, kamu bisa merasa sia-sia dalam bekerja. Perasaan bosan dengan pekerjaan pun bisa menggelayuti kamu. Psikoterapis asal Amerika Serikat, Katherine Cullen mengatakan bahwa kondisi tersebut lambat laun bisa berdampak buruk pada kesehatan mental. Salah satu dampak yang bisa muncul adalah depresi.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

“Karena menolak melakukan pekerjaan di luar tanggung jawab pribadi, bisa juga timbul perasaan tidak enak dengan rekan kerja. Hal ini bisa bikin kamu merasa tidak nyaman dan khawatir dengan lingkungan pekerjaan,” katanya.

Quiet quitting diduga bisa memberikan efek positif. Namun, tren ini juga bisa berdampak buruk apabila kamu tidak mengimbanginya dengan pikiran positif, tetap fokus, dan memiliki semangat untuk selalu memberikan hasil yang maksimal dalam bekerja.

Karenanya, supaya keseimbangan antara kehidupan pekerjaan dan kehidupan pribadi tetap berjalan, Psikolog Ikhsan menganjurkan untuk #JagaSehatmu dengan menentukan apa yang menjadi prioritas serta mengatur waktu dengan baik.

“Tujuannya adalah agar kita tidak kewalahan dengan tugas yang ada. Selain itu, buat manajemen waktu yang baik. Supaya kita bisa atur ritme dan jam kerja, serta beristirahat untuk merawat fisik dan mental kita,” ujar Ikhsan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini