Share

Kisah Perjuangan Ibu Hebat Rawat Anak Autisme, Sempat Stres Lihat Kotorannya di Tembok

Martin Bagya Kertiyasa, Okezone · Kamis 29 September 2022 15:33 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 29 612 2677464 kisah-perjuangan-ibu-hebat-rawat-anak-autisme-sempat-stres-lihat-kotorannya-di-tembok-uRkxGzLbCY.jpg Ilustrasi Anak Autis. (Foto: Shutterstock)

MEMBERSARKAN anak dengan kondisi keterbelakangan mental memang tidak mudah. Salah satu penyakit keterbelakangan mental yakni autisme. Lantas, bagaimana membesarkan anak yang memiliki autisme? Berikut cerita perjuangan seorang ibu tunggal membesarkan anak dengan autisme.

Namanya Sylvia Adriana (35), tak butuh banyak alasan untuk bertahan demi anak-anaknya. Dia dikaruniai dua anak istimewa. Pertama adalah Marvin (17) yang tumbuh dengan kondisi autisme. Lalu yang kedua seorang perempuan (12) dengan talasemia.

"Untuk seorang ibu enggak perlu syarat banyak-banyak untuk memperjuangkan anaknya," ucap Sylvia dengan nada bergetar seperti dikutip dari KlikDokter.

Sylvia pertama kali mengetahui putranya mengidap autisme saat Marvin berusia empat tahun. Dia sebenarnya sudah curgia dengan perbedaan sikap Marvin dengan anak seusianya.

Namun, hal itu baru terkonfirmasi ketika anaknya akan masuk sekolah. Guru-guru punya kecurigaan yang sama. Setelah bertanya ke sana-sini, barulah Sylvia mendapat diagnosis pasti: Marvin punya kondisi autisme. "Awalnya struggle banget. Syok awalnya. karena saya melahirkan Marvin itu di usia yang sangat sangat muda," kenang Sylvia.

Anak Autis

Butuh waktu baginya menerima kenyataan tersebut. Sylvia menuturkan, ia kerap menangis tiap kali melihat anaknya. Dia pun pernah berada di fase masa bodoh ketika anaknya melakukan apapun. Akan tetapi, naluri sebagai ibu tidak bisa berbohong. Perlahan Sylvia berusaha keras untuk mengasuh anaknya.

Marvin punya kondisi autisme berat. Ia kesulitan mempelajari hal baru. Ada satu peristiwa yang tidak akan pernah dilupakan Sylvia saat Marvin berusia 4,5 tahun. Anak dengan autisme tidak memiliki kemampuan mengekspresikan apa yang dirasakannya dalam berkomunikasi.

Suatu malam, Sylvia hanya berdua bersama Marvin di apartemennya. TIba-tiba putranya itu menjerit-jerit tak karuan. Dia membanting barang-barang di sekitarnya. Marvin marah hingga membenturkan kepala ke tembok. Sylvia tahu putranya lapar dan ingin makan. Dia juga tahu Marvin kesulitan mengekspresikan kemauannya.

Sylvia berusaha mencari cara agar anaknya bicara. Sylvia memegang tangan Marvin, "Marvin bilang, ‘mama, aku mau makan’." Marvin tidak merespons dan hanya menggelengkan kepala. Sylvia stres berat menghadapinya. Hal itu berlangsung sepanjang malam.

Sylvia ingat, sekitar setengah 3 pagi, tiba tiba Marvin menghampirinya. Dia memegang tangan ibunya. "Mama mau makan," kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut kecilnya. Menurut Sylvia, "Itu seumur hidup dia pertama kali ngomong."

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Dia perlahan mulai bisa menerima kondisi anaknya. Namun, titik itu bukanlah tujuan akhir. Sylvia mengatakan, menerima kenyataan justru bagian paling mudah. Setelah itu ada perjalanan panjang yang lebih berat: apa yang harus dilakukan setelah menerima kondisi anak. "Keluarga harus bertahan, tapi setelah bertahan harus berjalan," kata Sylvia.

Perjuangan mengasuh anak dengan kebutuhan khusus justru jadi tahapan lebih berat. Orangtua, kata Sylvia, harus punya pengetahuan mengenai kondisi anak. Perlu juga biaya besar untuk memberikan terapi. Orangtua juga perlu mencurahkan energi besar untuk membesarkan anak dengan kebutuhan khusus.

Meski Marvin menjalani terapi di klinik, itu saja tidak cukup. Menurut Sylviana, kunci mengajarkan anak berkebutuhan khusus ada di orangtua.

Orangtua perlu menerapkan apa-apa yang diajarkan terapis. Itu sebabnya, Sylviana harus pontang-panting membagi waktu antara kuliah, bekerja, dan mengasuh Marvin. Kebetulan, karena satu dan lain hal, Sylvia kini berperan sebagai orangtua tunggal bagi kedua anaknya.

Sylvia menceritakan bagaimana ia perlahan-lahan berusaha mengajarkan Marvin kemandirian. Energi dan waktu yang tercurahkan tidak sedikit. Urusan mengajarkan buang air besar di toilet saja misalnya, Sylvia perlu waktu hingga 2 bulan ketika usia Marvin sudah menginjak tujuh tahun. "Itu susahnya kayak apa ya, bener bener nguji kesabaran banget. Ada satu momen dia enggak ngerti apa itu BAB, bayangkan kotoran itu sampai ada di tembok," kenangnya.

Sylvia mencatat semua hal mengenai Marvin, mulai dari apa yang disuka dan yang tidak disuka, hingga aktivitas apa saja yang sudah bisa dilakukan Marvin secara mandiri. "Punya anak autis membuat saya lebih rapi. Saya orangnya berantakan dan random," kata wanita yang aktif di berbagai kegiatan kerelawanan ini.

Beruntung, Sylvia mendapat dukungan dari ayah sambungnya. Hal yang sebelumnya tidak pernah ia perkirakan. Terelebih, mereka punya keyakinan yang berbeda. Ayahnya lah yang menjaga Marvin ketika Sylvia tidak bisa mendampingi. Keluarga semacam itulah yang menjadi suport system-nya.

Karena itu, ia yakin bahwa keluarga pada akhirnya selalu menjadi obat utama semua permasalahan. "Jadi memang kuncinya dari kasih sayang, dari situ bisa muncul namanya penerimaan, keikhlasan, bisa muncul upaya maksimal. itu dari kasih sayang," ujarnya.

Bisa dibilang, membesarkan Marvin menjadi titik balik kehidupan Sylvia. Ia akhirnya melanjutkan kuliahnya yang sebelumnya sempat terputus. Karena pengalaman membesarkan Marvin, dia memilih mengambil jurusan psikologi.

Pada 2021 lalu, Sylvia mendirikan Yayasan Pendidiakn Kesehatan Mental. Lewat lembaga itu, ia ingin membantu keluarga lain yang punya anak berkebutuhan khusus. Dia sadar banyak keluarga bingung ketika mendapat anugerah anak berkebutuhan khusus. Pelajaran itu yang ia ambil dari periode awalnya membesarkan Marvin.

"Karena saya pernah mengalaminya meski pengalaman saya enggak seberapa. Saya ingin berbagi dengan keilmuan yang saya punya," ujar perempuan yang beberapa tahun lalu menyelesaikan studinya di bidang psikologi.

Ia juga ingin mendorong literasi masyarakt seputar kesehatan mental. Kata dia, hanya pendidikan yang bisa membantu mengikis stigma. Dengan begitu, akan tercipta lingkungan yang suportif dan inklusif. Iklim semacam itu akan sangat membantu keluarga dengan anak berkebutuhan khusus.

“Apa pun kondisnya, anak itu berkah. Dan orang tua yang dikaruniai anak berbeda dengan yang lain jadi punya kesempatan buat belajar. Sampai sekarang saya masih terus belajar,” katanya.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini