Share

Lesti Kejora Diduga Alami KDRT, Ini 5 Alasan Korban Pilih Bercerai dari Suami

Muhammad Sukardi, Okezone · Kamis 29 September 2022 17:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 29 612 2677609 lesti-kejora-diduga-alami-kdrt-ini-5-alasan-korban-pilih-bercerai-dari-suami-BwzI0uHdho.JPG Lesti Kejora dan Rizky Billar, (Foto: ASKAR Photography/ Instagram @lestykejora)

PEDANGDUT Lesti Kejora diduga mengalami KDRT atau kekerasan dalam rumah tangga dari sang suami, Rizky Billar. Lesti sendiriย  kini sudah melaporkan sang suami ke pihak kepolisian.

Menilik dugaan KDRT yang dialami Lesti Kejora, kini ada dua pilihan yang ada di depan mata dari wanita lainnya di luar sana seperti Lesti, yakni bertahan sekuat tenaga demi anak atau bercerai.

Terkait pilihan bercerai, merujuk pada laporan studi yang dilakukan pada 17 wanita berusia 21 sampai 56 tahun korban KDRT di Kelantan, Malaysia, diketahui 12 orang di antaranya memilih bercerai dari sang suami.

Secara psikologis, ada lima alasan yang menguatkan wanita yang menjadi korban KDRT untuk mantap memilih bercerai dibandingkan bertahan dengan rumah tangga dengan kekerasan di dalamnya.

Pertama yakni berpikir bahwa tindakan kekerana sudah melewati batas toleransi, memiliki dukungan yang memadai sebelum dan sesudah perceraian, memikirkan kesejahteraan anak, mencari kemandirian finansial, dan terakhir ada rasa takut jika tindak kekerasan tersebut bisa terulang lagi di masa depan, mengutip Nation Library Medicine, Kamis (29/9/2022).

Surianti Sukeri, dari Department of Community Medicine, School of Medical Sciences, Universiti Sains Malaysia sebagai peneliti studi di atas menyebutkan, keputusan perceraian ini adalah keputusan yang baik untuk bisa keluar dari rumah tangga dan hubungan yang sudah rusak.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

"Perceraian mungkin merupakan strategi yang berhasil, bagi perempuan korban kekerasan untuk melarikan diri dari rumah tangga yang sudah rusak akibat KDRT," kata Surianti.

Sukeri menemukan, faktanya di lapangan bahwa tak sedikit memang perempuan korban KDRT memilih bertahan dalam kesedihan. Para korban tidak bisa 'kabur' dari situasi traumatis itu, karena beberapa faktor, misalnya karena faktor kemiskinan dan ketidaksetaraan gender.

Tapi, wanita yang menjadi korban namun sudah terbebas dari KDRT mengaku bahwa kekerasan dalam rumah tangga adalah batas toleransi tertinggi dari semua kesalahan yang mungkin saja terjadi dalam menjalin rumah tangga.

โ€œDia menamparku, menendangku. Perceraian adalah satu-satunya solusi, karena saya tidak ingin tinggal lagi bersamanya,โ€ aku salah seorang koresponden.

"Saya mengajukan gugatan cerai setelah dia memukuli saya dengan kursi. Selama ini saya menoleransi pelecehan verbalnya, tetap setelah dia memukul saya, saya tidak tahan lagi,โ€ tambah koresponden berikutnya,

Masih dari studi yang sama, peneliti juga menemukan fakta bahwa bercerai adalah keputusan yang dinilai tepat demi melindungi anak-anak dari suami yang kasar. Bercerai adalah keputusan yang dianggap tepat karena itu bisa membebaskan si perempuan maupun anak-anaknya terbebas dari perilaku superior suami yang telah melakukan kekerasan.

Penting untuk orang di sekitar korban memberikan dukungan tanpa syarat, karena itu bisa membuat korban merasa kuat menjalani hidup.

"Semakin besar dukungan yang diterima korban dan anak-anaknya, ini akan semakin menguatkan korban. Korban akan merasa mandiri dan berdaya untuk melanjutkan hidup," pungkas peneliti.

ย BACA JUGA:4 Potret Keharmonisan Keluarga Kerajaan Inggris Jika Putri Diana Masih Hidup

BACA JUGA:Viral Potret Rumah Megah Bak Istana Terbengkalai, Ini Alasan Bangunan Mangkrak!

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini