Share

Sambut Hari Batik Nasional, Desainer Ini Kawinkan Batik Kudus dengan Kain Bali

Muhammad Sukardi, Okezone · Sabtu 01 Oktober 2022 19:34 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 01 194 2678827 sambut-hari-batik-nasional-desainer-ini-kawinkan-batik-kudus-dengan-kain-bali-UBbKqbRPWp.JPG Denny Wirawan. (Foto: Denny Wirawan)

MENYAMBUT Batik Nasional yang dirayakan setiap 2 Oktober, Desainer Denny Wirawan mengawinkan batik Kudus dengan kain Bali seperti tenun endek, kain gringsing, dan songket Bali.

Hari batik ini pun menjadi momen Denny merayakan 25 tahun berkarya di dunia mode Tanah Air. Bukan perkara mudah memadukan kain batik Kudus dengan kain Bali tersebut, karena kedua material wastra Nusantara itu punya karakternya masing-masing, pun nilai filosofinya yang bernilai tinggi.

Koleksi LANGKAH Spring Summer 2023, Denny Wirawan menamainya. Terdapat tiga sequences di koleksi ini yang mana ketiga punya cerita berbeda. Semuanya coba meng-capture keunikan Denny dalam perjalanan kariernya selama ini sebagai seorang desainer.

Batik Denny Wirawan

Sequence pertama menampilkan koleksi ready-to-wear yang banyak menggunakan tenun endek. Lalu, sequence kedua menampilkan keindahan kain gringsing yang dikombinasikan dengan batik Kudus. Kain gringsing didapat Denny dari pengrajin di Karangasem.

"Kain gringsing merupakan jenis kain warisan kebudayaan kuno Bali. Kain ini biasa dipakai untuk upacara khusus. Proses pembuatannya yang rumit dan memakan waktu banyak membuat saya tidak sama sekali memotong helaian kain gringsing," ungkap Denny dalam keterangan tertulisnya.

Nah, untuk sequence ketiga Denny menggunakan kain songket Bali yang terbuat dari pewarna alam dan juga dibuat dengan prinsip sustainable fashion. Sementara pada jalinan lungsin dan pakan tenun, benang pakan menggunakan sisa-sisa benang limbah yang dipintal ulang. Hasilnya, terlihat perpaduan warna yang unik jika diamati dari dekat.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Kain songket ini khusus dibuat oleh perajin dari daerah Sidemen. Selain itu, adapula teknik pembuatan kain songket yang dicelup dengan menggunakan pewarna alam setelah proses penenunan selesai, sehingga tekstur kain lebih lembut dan nyaman dikenakan, serta harmoni warnanya terlihat menyatu.

"Saya memahami betul bahwa pengrajin saat ini ada yang muda hingga tua, yang artinya mereka bisa mendapatkan penghidupan yang layak dengan menjadi pengrajin tenun maupun pembatik," papar Denny.

"Luar biasanya lagi, saya menyadari bahwa para pengrajin dan pembatik ini hampir semuanya perempuan. Ini membuktikan sekali lagi bahwa perempuan dapat berkarya dan menjadi penopang ekonomi bangsa," tambahnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini