Share

Demi Informasi yang Akurat, Dibutuhkan Kajian Ilmiah Soal Tembakau Alternatif

Dyah Ratna Meta Novia, Okezone · Senin 03 Oktober 2022 22:40 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 03 612 2679918 demi-informasi-yang-akurat-dibutuhkan-kajian-ilmiah-soal-tembakau-alternatif-dxPJgiQKme.jpg Berusaha berhenti merokok (Foto: Pharm easy)

CENTERS for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menyebutkan, merokok berpotensi meningkatkan risiko penyakit tidak menular. Seperti jantung koroner dan stroke sebanyak 2 sampai 4 kali.

Perokok pria juga berpotensi terkena kanker paru-paru sebanyak 25 kali. Merokok juga dapat memicu kanker seperti kandung kemih, darah, serviks, tenggorokan, hati, pankreas, perut, ginjal, dan ureter.

“Tidak diragukan lagi, berhenti merokok. Jika berhenti merokok, Anda secara dramatis menurunkan risiko,” kata Kurtis A. Campbell, MD, Ahli Onkologi Bedah Bersertifikat di Mercy Medical Center di Baltimore seperti dikutip dari Yahoo Life.

Menurut data National Cancer Institute Amerika Serikat, TAR yang merupakan hasil dari pembakaran rokok, mengandung berbagai senyawa karsinogenik yang dapat memicu kanker. Dari 7.000 bahan kimia yang terkandung dalam asap rokok, 2.000 di antaranya terdapat pada TAR.

 tembakau alternatif

Kemudian sederet peneliti dunia juga telah melakukan studi tentang produk tembakau alternatif. Yakni pada rokok elektrik, maupun snus.

Layanan Kesehatan Nasional Inggris mengklaim, produk tembakau alternatif lebih aman karena tidak membakar tembakau. Pada akhirnya tidak menghasilkan TAR maupun karbon monoksida, dua elemen yang paling berbahaya dari asap rokok.

Sementara itu, Ketua Aliansi Vaper Indonesia (AVI) Johan Sumantri mengatakan, saat ini sering ada misinformasi soal tembakau alternatif karena belum adanya keseriusan pemerintah untuk melakukan kajian yang menyeluruh atas produk tembakau alternatif. Padahal, akademisi dan peneliti independen di Indonesia sudah banyak melakukan penelitian terhadap produk tersebut. Namun, pemerintah belum mempertimbangkan hasil dari riset-riset tersebut.

“Pemerintah harus membuat penelitian yang komprehensif atas produk tembakau alternatif. Jangan hanya berasumsi seperti yang selama ini dilakukan,” kata Johan.

Johan memastikan, pihaknya siap terus menyebarkan informasi akurat berdasarkan temuan ilmiah yang ada mengenai produk tembakau alternatif untuk menekan misinformasi yang selama ini beredar di masyarakat. Hal tersebut agar perokok dewasa yang mengalami kesulitan untuk berhenti merokok memiliki pemahaman yang tepat tentang produk tembakau alternatif yang memiliki risiko lebih rendah daripada rokok dan tidak kehilangan kesempatan untuk dapat beralih ke produk tembakau alternatif.

 BACA JUGA:Fungsinya Turunkan Prevalensi Perokok, Regulasi Tembakau Alternatif Tak Bisa Sama dengan Konvensional

“Kami pasti terus lawan misinformasi dengan fakta dan data. Kami juga meminta pemerintah agar tidak ikut dalam menyebarkan informasi yang salah dan tanpa dasar penelitian atas produk tembakau alternatif,” ujarnya.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia (AKVINDO) Paido Siahaan sependapat dengan Johan. Menurut dia, angka perokok di Indonesia akan sulit berkurang jika perokok dewasa tidak mendapatkan kemudahan akses informasi akurat terhadap produk tembakau alternatif. Ditambah lagi misinformasi terhadap produk tersebut masih berkembang luas di publik.

“Tentunya tujuan kami untuk memberikan pilihan yang lebih baik terhadap 69 juta perokok di Indonesia akan terganggu. Secara jangka panjang ini akan menjadi beban bagi negara,” kata Paido.

Ia juga mendukung adanya kajian ilmiah yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan di industri produk tembakau alternatif, termasuk perwakilan konsumen. Dalam penelitian yang digagas pemerintah ini bisa menggandeng akademisi, peneliti, kementerian/lembaga, pelaku industri, hingga konsumen. Tujuannya agar hasil dari kajian ilmiah tersebut komprehensif sehingga nantinya perokok dewasa memperoleh informasi akurat yang bersumber dari pemerintah.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini