Share

Batik Tulis Lasem Jadi Suvenir KTT G20 di Bali, Ini Sejarah dan Keistimewaannya

Wiwie Heriyani, MNC Portal · Kamis 10 November 2022 07:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 09 194 2704413 batik-tulis-lasem-jadi-suvenir-ktt-g20-di-bali-ini-sejarah-dan-keistimewaannya-o2g9dkGiJi.jpg Batik Tulis Lasem Jadi Suvenir KTT G20 (Foto: Pesona.Travel)

KONFERENSI Tingkat Tinggi (KTT) ke-17 G20 di Indonesia akan diselenggarakan di Bali pada 15-16 November 2022 mendatang. Ada hal unik dari penyelenggaraan KTT G20 di Bali ini. 

Pasalnya, pada puncak dari serangkaian proses pertemuan G20 itu akan menghadirkan Batik Tulis Lasem yang dipesan khusus sebagi cendera mata atau souvenir bagi para delegasi G-20.

Batik Tulis Lasem tersebut yakni berupa syal atau selendang yang motifnya diadopsi dari dua motif batik khas lasem yakni motif kerikil dan motif latohan.

Batik Tulis Lasem

(Foto: pesona.travel)

Keunikan metode pewarnaan dari souvenir Batik Tulis Lasem ini juga menjadi daya tarik tersendiri sehingga bisa dijadikan cendera mata.

Pasalnya, metode pewarnaannya masih menggunakan teknik tradisional dan menggunakan pewarna alami dari bahan-bahan seperti daun dan kayu-kayuan.

Lantas, apa lagi keunikan dan sejarah dari Batik Tulis Lasem? Berikut ulasannya.

Batik Lasem merupakan salah satu jenis batik yang berasal dari daerah Lasem, kabupaten Rembang. Keterampilan membatik masyarakat Lasem diperoleh secara turun temurun.

Batik yang dihasilkan oleh pengrajin merupakan jenis batik tulis. Proses pembuatan batik tulis memerlukan waktu yang cukup lama.

Untuk menghasilkan satu lembar kain batik tulis, diperlukan waktu sekitar satu bulan sejak proses pembuatan pola hingga batik siap digunakan.

Batik di setiap daerah selalu memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh batik di daerah lainnya. Ciri khas tersebut dapat dilihat dari motif atau corak, warna, pewarna yang digunakan juga cara pembuatannya.

Ciri khas batik Lasem salah satunya terlihat dari warna batik yang didominasi warna-warna cerah terutama warna merah khas pesisir.

Saat ini terdapat sekitar 200 perajin batik di Lasem. Batik yang dihasilkan oleh penduduk daerah Lasem adalah jenis batik tulis. Saat ini pewarnaan pada kain batik menggunakan pewarna alami yang ramah lingkungan.

Sebelumnya, para perajin mewarnai batik mereka dengan pewarna kimia. Pewarna alami yang banyak digunakan berasal dari batang mahoni dan akar mengkudu.

Sejarah Batik Lasem

Kehadiran batik ini sebenarnya tidak terlepas dari cerita tentang Laksamana Cheng Ho. Lasem merupakan daerah pesisir yang pertama kali digunakan untuk mendarat pasukan Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok.

Selain itu, Lasem juga diyakini sebagai daerah yang pertama kali menerima kedatangan warga Tionghoa di Nusantara.

Baca Juga: Ikut Acara Offline BuddyKu Fest, Cara Jadi Content Creator Handal Zaman Now!

Baca Juga: Meet Eat Inspire, Hypernet Technologies Tawarkan Solusi PowerEdge Gen 15 Server

Follow Berita Okezone di Google News

Mpu Santri Badra di tahun 1401 Saka (1479 M) menulis Babad Lasem yang ditulis ulang oleh R. Panji Kamzah pada tahun 1858. Dalam Babad Lasem tersebut diceritakan bahwa Bi Nang Un, yang merupakan anak buah kapal Dhang Puhawang Tzeng Ho dari Negara Tiong Hwa, bersama dengan istrinya yang bernama Na Li Ni memutuskan untuk tinggal di Bonang karena keindahan alamnya.

Na Li Ni yang kemudian diyakini sebagai orang yang pertama kali membuat batik di Lasem. Na Li Ni membuat batik dengan motif burung hong, bunga seruni, liong, mata uang dan banji dengan warna merah darah ayam yang menjadi ciri khas Tiong Hwa.

Motif yang dibuat oleh Na Li Ni ini menjadi kekhasan batik Lasem. Batik tersebut dikirim ke seluruh wilayah Nusantara oleh para pedagang antar pulau dengan menggunakan kapal karena keunikan motifnya.

Pada awal abad XIX, batik ini mengalami masa kejayaan dengan diekpornya batik buatan Lasem ke Thailand dan Suriname. Seiring perkembangannya, banyak motif bermunculan. Salah satunya adalah motif kricakan.

Motif kricakan tersebut dibuat oleh para pengrajin karena terinspirasi dari penderitaan warga Lasem yang bekerja sebagai pemecah batu-batu besar pada masa pemerintahan Daendels. Selain motif kricakan, muncul pula motif gunung ringgit dan latohan.

Nah, bagi Anda yang tertarik untuk memiliki batik tulis Lasem, siap-siap mengeluarkan budget dari kisaran Rp200.000 hingga Rp6 jt untuk dapat memiliki selembar kain batik tulis Lasem.

Tinggi rendahnya harga batik tergantung dari tingkat kerumitan motif. Semakin rumit motif yang dimiliki, maka harganya batik Lasem semakin mahal. *

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini