Share

Tren Jualan ala Shoppertainment Diyakini Masih Populer di 2023

Martin Bagya Kertiyasa, Okezone · Rabu 23 November 2022 13:33 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 23 612 2713180 tren-jualan-ala-shoppertainment-diyakini-masih-populer-di-2023-xLZ2AYFuFP.jpg Ilustrasi Belanja Online. (Foto: Shutterstock)

MEDIA sosial memang tidak hanya digunkaan untuk bercengkrama bersama teman secara virtual, ataupun posting foto-foto saat liburan. Seiring dengan banyaknya mereka yang kerap belanja online, banyak orang memanfaatkan medsos mereka untuk promosi.

Memang, promo lewat para influencer ini dianggap lebih mudah diterima oleh masyarakat. Tidak heran, jika banyak yang berburu followers agar medsos mereka dilirik oleh brand-brand. Salah satu ciri promo lewat medsos yakni dibalut dengan hiburan.

Penasihat Indonesia E-Commerce Association (idEA) Ignatius Untung menyatakan tren shoppertainment atau teknik berjualan daring yang dibalut dengan hiburan, dinilai masih efektif untuk pasar Indonesia di tengah kondisi ancaman resesi ekonomi 2023.

Belanja Online

"Justru di tengah resesi orang-orang butuh hiburan, mereka akan memutuskan untuk menjauhi toko-toko. Ini yang membuat shoppertaintment masih tetap akan jadi tren," kata Untung seperti dilansir dari Antara.

Tren berjualan secara daring dengan sistem shoppertaintment saat ini di Indonesia semakin marak terutama semenjak pandemi Covid-19. Hal itu juga tercermin dalam laporan berjudul "Shopperainment: APAC's Trillion-Dollar Opportunity" dari Boston Consulting Group (BCG) serta TikTok.

Tercatat tren itu telah membantu pertumbuhan bisnis sebuah jenama hingga 63 persen di Indonesia dan dua negara Asia lainnya yakni Jepang serta Korea Selatan. Dalam laporan itu disebutkan bahwa tren shoppertainment menjadi relevan saat ini karena bisa menyentuh hubungan fungsional dan emosional.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Dengan demikian pelanggan dan jenama bisa memiliki hubungan yang lebih kuat dibandingkan dengan skema penjualan dan pembelian di masa sebelum pandemi. Hal itu dikarenakan konten shoppertainment tidak menjual produk-produk secara langsung dan justru memberikan hiburan ataupun edukasi baru bagi pelanggan.

Dengan demikian, secara alami pelanggan justru akhirnya tertarik membeli produk terkait dari konten hiburan maupun edukasi itu. Umumnya shoppertainment dilakukan di media sosial, namun dengan berkembangnya teknologi kini platform e-commerce pun sudah mulai mengadopsinya.

Hal serupa diperkirakan masih akan bertahan di tengah potensi resesi terutama karena secara sadar orang-orang menghindari pengeluaran yang tidak diperlukan.

Salah satu cara adalah dengan masyarakat secara sengaja menghindari lokasi-lokasi seperti toko-toko fisik untuk menekan biaya konsumsi. "Nah kondisi ini menjadi sebuah opportunity bagi pelaku UMKM karena bisa berjualan di tempat yang tidak dihindari seperti media sosial," ungkap Untung.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini