Share

Sederet Fakta soal Kebaya Didaftarkan ke UNESCO, Ternyata Ada 5 Negara ASEAN yang Klaim

Muhammad Sukardi, Okezone · Jum'at 25 November 2022 13:37 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 25 194 2714679 sederet-fakta-soal-kebaya-didaftarkan-ke-unesco-ternyata-ada-5-negara-asean-yang-klaim-xjfZ2xMxDQ.jpg Ilustrasi Kebaya. (Foto: Shutterstock)

INDONESIA memang tengah memperjuangkan kebaya sebagai warisan budaya tak-benda ke UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization). Tapi, selain Indoensia ternyata ada 4 negara lagi yang mendaftarkan kebaya ke UNESCO.

Empat negara tersebut yakni Malaysia, Singapura, Brunei, dan Thailand yang ikut mengklaim kebaya sebagai warisan budaya tak-benda ke UNESCO. Tentu saja hal ini menjadi pembicaraan banyak orang, pasalnya banyak yang mengira hanya Indonesia yang mendaftarkan kebaya tersebut ke UNESCO.

Pengajar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Indiah Marsaban sudah menyoroti kabar ini sejak awal November 2022, sebelum isunya mencuat ke publik belum lama ini. Dalam paparannya yang tertulis di laman kebayaindonesia.org, Indiah membuka fakta sesungguhnya terkait kabar ini.

Indiah menjelaskan bahwa sejatinya pihak Brunei, Malaysia, Singapura, dan Thailand sudah mengajak Indonesia untuk menominasikan kebaya sebagai shared culture secara multi-national nomination ke UNESCO. Keempat negara itu pun menurut Indiah sudah siap dengan dossier atau berkas dokumen yang diminta pihak UNESCO untuk mendaftarkan kebaya sebagai warisan tak-benda.

Kebaya

"Namun mayoritas suara dari komunitas di Indonesia yang mengusung 'kebaya goes to UNESCO' menginginkan agar Indonesia menominasikan tradisi kebaya secara single nation nomination (nominasi secara sendiri sebagai pihak negara tunggal," terang Indiah, dikutip MNC Portal, Jumat (25/11/2022).

Perlu diketahui, suatu elemen budaya bisa dinominasikan ke UNESCO oleh satu negara secara single-nation nomination atau dapat juga diajukan nominasinya secara bersama-sama beberapa negara atau istilahnya multi-nation nomination yang juga biasa disebut joint nomination.

"Negara mana pun berhak mendaftarkan elemen budaya yang ada di negaranya ke UNESCO dan tidak ada negara yang bisa melarang negara lain mendaftarkan elemen budayanya ke UNESCO," tegas Indiah.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Dalam paparannya juga, Indiah menjelaskan apa konsekuensi yang akan diterima Indonesia jika tidak terima ajakan keempat negara ASEAN lain untuk multi-national nomination?

1. “Kebaya” harus didaftarkan terlebih dulu sebagai WBTB Nasional dan perlu ditentukan jenis kebaya apa yang akan didaftarkan sebagai WBTB Nasional.

Saat ini jenis kebaya yang sudah terdaftar sebagai WBTB Nasional adalah kebaya labuh yang diajukan oleh Pemda Riau dan kebaya kerancang yang didaftarkan oleh Provinsi DKI. (Pendaftaran WBTB nasional harus dilakukan oleh “pewaris” WBTB melalui pemerintah daerah).

Jadwal pendaftaran WBTB nasional di Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud dibuka pada bulan Maret setia tahunnya dan pengumuman keputusan dimasukkannya dalam daftar inventaris WBTB Nasional adalah di bulan Oktober setiap tahun. "Dengan demikian jika kebaya akan didaftarkan sebagai WBTB Nasional pada bulan Maret 2023, keputusannya adalah pada Oktober 2023," kata Indiah.

2. Sementara itu, mengingat bahwa siklus penerimaan nominasi di UNESCO untuk single-nation nomination adalah hanya satu nominasi setiap dua tahun sekali yakni pada bulan Maret, maka paling cepat Indonesia dapat mengajukan nominasi ke UNESCO adalah Maret 2024. "Itu pun harus ikut antre dengan WBTB Nasional lainnya seperti jamu, tempe, tenun dan reog Ponorogo yang sudah terlebih dahulu mau masuk 'antrean' ke UNESCO," jelasnya.

3. Jika Indonesia tidak bergabung dalam multi-national nomination, maka pihak negara Brunei, Malaysia, Singapura, dan Thailand akan tetap lanjut menominasikan 'kebaya' pada Maret 2023, karena siklus penerimaan nominasi secara multi-national nomination terbuka setiap tahunnya pada bulan Maret.

4. Jika pihak negara lain (state parties) sudah menominasikan kebaya ke UNESCO, maka Indonesia harus 'berbeda' dari yang dinominasikan pihak negara lain. "Alternatif lain adalah mengajukan nominasi tradisi berkebaya yang berciri khas Indonesia melalui 'extended nomination' setelah nominasi diajukan secara bersama (secara multi-national nomination). Namun pola pengajuan nominasi seperti ini juga cukup rumit," tutur Indiah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini