Share

Keagungan Motif Parang Hingga Dilarang di Pernikahan Kaesang dan Erina

Muhammad Sukardi, Okezone · Sabtu 10 Desember 2022 08:52 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 10 194 2724386 keagungan-motif-parang-hingga-dilarang-di-pernikahan-kaesang-dan-erina-9q1ZA3Anzq.jpg Kaesang Pangarep kunjungi Mangkunegaran (Foto: Romensy August/MPI)

TAMU undangan pernikahan Kaesang dan Erina dilarang mengenakan kain motif parang. Aturan tersebut berlaku dengan tegas. Artinya, jika tamu undangan nekat datang mengenakan kain batik bermotif parang, dipastikan ditolak masuk ke lokasi acara.

Kaesang Pangarep sendiri yang menjelaskan aturan ini. Menurutnya, kain motif parang tidak boleh sembarangan dikenakan di area Pura Mangkunegaran, mengingat motif tersebut hanya boleh dipakai oleh raja dan ksatria kerajaan.

Kaesang Pangarep

"Yang boleh pakai motif parang kan hanya Kanjeng Gusti, yang lain kan rakyat biasa, ya, pakai batik pada umumnya," kata Kaesang pada awak media, beberapa waktu lalu saat mengunjungi Pura Mangkunegaran. 

"Kalau kelupaan dan masih pakai batik parang, di depan (Pura Mangkunegaran) ada banyak toko batik, jadi silahkan beli," tambahnya.

Aturan larangan mengenakan kain batik parang ini pun sempat menghebohkan publik. Padahal sudah jelas bahwa itu terkait dengan aturan yang berlaku di area Pura Mangkunegaran, lokasi resepsi pernikahan Kaesang-Erina.

MNC Portal coba mendalami soalan motif parang ini. Diterangkan Desainer Motif Batik dan Penggiat Batik Tulis Pewarna Alami, Agnes Dwina Herdiasti, motif parang punya kedudukan tinggi di Tanah Jawa.

Batik Parang

Motif parang, kata Agnes, masuk dalam kategori motif larangan di lingkup keraton Solo maupun Yogyakarta. Artinya, hanya boleh dikenakan oleh raja dan keluarga, serta kerabatnya.

"Itu pun ada aturan ketatnya tersendiri," kata Agnes melalui pesan singkat, Sabtu (10/12/2022).

"Besar kecilnya bidang parang menentukan status atau kedudukan seseorang di lingkup tersebut. Jadi tidak ada yang boleh menyamai apalagi melebihi ukuran parang seorang raja, demikian berlaku untuk strata di bawah raja," tambahnya.

Agnes juga menjelaskan bahwa parang itu sendiri berasal dari kata 'pèrèng' yang berarti tebing, polanya garis-garis diagonal 45 derajat. Sudut 45 derajat pun kata Agnes punya makna filosofis.

Adalah sudut sakral karena menunjukkan perjuangan seorang pemimpin dari dasar, bertirakat yang diibaratkan menaiki bukit menuju puncak gunung (manunggaling kawula Gusti), untuk kemudian membawa wahyunya turun demi kemakmuran rakyatnya.

"Parang tercipta dari perjalanan tirakat panjang Danang Sutawijaya di tebing pantai selatan sebelum akhirnya memulai babad alas Mentaok yang mengawali berdirinya kerajaan Mataram. Danang Sutawijaya kemudian bergelar Panembahan Senopati, penguasa pertama Kerajaan Mataram," tutur Agnes.

Baca Juga: Aksi Nyata 50 Tahun Hidupkan Inspirasi, Indomie Fasilitasi Perbaikan Sekolah untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

Ia melanjutkan, bentuk-bentuk yang terdapat pada motif parang menyimpan kode rahasia alam semesta yang sangat tinggi tingkatannya, hingga di zaman itu hanya orang yang waskita saja yang tahu maknanya.

Simbol-simbol tersembunyi dengan sangat rapatnya. Misalnya, diketahui kemudian bahwa di dalam motif parang tersembunyi simbol burung rajawali yang tidak bakal bisa terlihat oleh mata orang awam.

"Dari buku 'Batik-Filosofi, Motif & Kegunaan' yang disusun oleh Adi Kusrianto (2013), dijelaskan bagaimana objek rajawali didekonstruksi sedemikian rupa, menjadi bentuk dengan stilisasi tingkat tinggi," kata Agnes.

Ada bagian kepala burung yang didekonstruksi menjadi bagian motif yang disebut 'uceng' yang bermakna alam pikiran seorang raja atau pemimpin; bagian paruh yang beralih bentuk menjadi lidah api, menggambarkan kemampuan seorang raja yang memiliki 'sabdo dadi' (apapun yang diucapkan akan terjadi); bagian badan yang melukiskan kekuatan fisik, dan lain sebagainya.

"Ya, burung dijadikan simbol tahta tertinggi di banyak kebudayaan di belahan Bumi manapun. Dan burung Rajawali atau Garuda adalah makhluk Bumi yang bisa terbang mendekati langit atau surga. Burung rajawali juga merupakan simbol 'Wong Agung' atau manusia di atas rata-rata," kata Agnes.

"Hal unik dan khas dari Parang justru karena mata awam tidak bisa melihat bentuk burung tersebut. Ini tentunya sejalan dengan falsafah Jawa yang mengedepankan aspek rasa dan kepantasan, yang mana keunggulan diri tidak boleh dipamerkan. Semakin tinggi kedudukan dan ilmu seseorang, semakin halus dan berkias bahasanya," sambungnya.

"Karena segala keutamaannya, motif Parang kata orang Jawa bilang 'Abot sanggane' atau berat tanggung jawabnya, sehingga tidak bisa sembarang orang mengenakannya," ujar Agnes.

Jadi, diibaratkan orang awam yang tidak pernah merasakan tirakat dan alam pikirannya berada dalam keheningan, mereka tidak akan mampu mengemban tanggung jawab kepada masyarakat yang berada di bawahnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini