Share

Geluti Bisnis Produk Perawatan Bayi, Apa Tantangannya?

Wiwie Heriyani, MNC Portal · Rabu 25 Januari 2023 20:02 WIB
https: img.okezone.com content 2023 01 25 612 2753049 geluti-bisnis-produk-perawatan-bayi-apa-tantangannya-X7mN6rhQUd.JPG Felicia, CEO Malo Indonesia, (Foto: tangkapan layar Youtube Partai Perindo)

PRODUK perawatan bayi merupakan sektor industri yang kemungkinan besar tidak akan pernah mengalami kemunduran, terutama di Indonesia. Seiring dengan angka kelahiran anak di Indonesia yang masih cukup tinggi dibanding negara-negara lainnya.

Diungkap CEO dan CO Founder Malo Indonesia, Felicia Debora Idama, tak ditampik memang masih cukup tingginya angka kelahiran membuat Indonesia menjadi target pasar sangat menjanjikan untuk bisnis produk perawatan bayi.

Terlebih, Felicia menilai, saat ini tingkat kepedulian orangtua terutama di kalangan milenial dan Gen Z, terhadap kesehatan hingga kondisi kulit anak semakin tinggi.

Meski demikian, menggeluti industri ini bukan berarti tanpa tantangan. Felicia menyebut, meraih kepercayaan konsumen adalah yang paling utama.

“Tantangan yang pertama itu adalah gain trust. Kalau konsumen itu enggak percaya, ya dia enggak akan mau coba produk itu ke anaknya,” ujar Felicia, dalam siaran Podcast Aksi Nyata, “Mempersiapkan Masa Depan Anak Lewat Perawatan, Emang Bisa?” dikutip dari kanal Youtube Partai Perindo, Rabu, (25/1/2023).

Setelah itu, menurut Felicia sebagai pelaku industri, tantangan lain yang juga tak kalah penting adalah mendidik market itu sendiri.

“Terus yang ketiga itu sebenarnya setiap hari itu ada yang lahir, setiap anak itu punya future, kita enggak tau mereka jadi apa,” lanjutnya.

Menurutnya, sejauh ini prospek segmen produk perawatan bayi cukup sangat bisa diandalkan. Ia melihat kebutuhan ini juga menjadi kebutuhan primer bagi orang tua, sehingga banyak orang yang rela menghabiskan dana yang tidak sedikit untuk berbelanja produk bayi.

Baca Juga: Aksi Nyata 50 Tahun Hidupkan Inspirasi, Indomie Fasilitasi Perbaikan Sekolah untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

“Nah, dengan pandemi Covid-19, tingkat kelahiran di Indonesia itu 9 persen dan itu terus growing. Sebab angka generasi milenial akhir dan Gen Z mulai pada punya anak lagi nih, dan kalau temen-temen sadar trennya sekarang kok yang muda-muda sudah pada punya anak ya sekarang,” ungkapnya.

Meski begitu, memasarkan produk perawatan bayi ternyata tidak semudah produk perawatan orang-orang dewasa. Sebab, suatu brand harus bisa membangun kepercayaan para konsumen untuk memastikan bahwa produknya tak hanya bisa memberikan perawatan kulit bayi, namun juga aman untuk kulit bayi yang cenderung lebih sensitif dari orang dewasa.

Felicia menyebut, semua orang tua tentu ingin yang terbaik untuk anaknya, termasuk dalam pemilihan produk bayi. Hal inilah yang bisa menjadi nilai sangat krusial untuk bisnis satu ini. Terlebih, masih banyak masyarakat yang tidak melek akan literasi terkait pemilihan produk perawatan yang aman untuk anak mereka.

“Me-literasi itu yang cukup sulit, karena apa? Dengan salah satu efek samping dari globalisasi kita itu mintanya disuguhin. Sementara, sebetulnya untuk memilih produk untuk bayi, untuk anak, dan untuk kitapun harusnya itu menyesuaikan dengan kebutuhan kita. Caranya gimana? Ya banyak membaca dong, oh ini untuk apa sih, itu sih yang sulit,” curhat Felicia lagi.

 BACA JUGA:Viral Perempuan Nabung 12 Tahun Demi Nikahkan Kakaknya

BACA JUGA:Podcast Aksi Nyata: Sukses Jadi Konten Kreator, Cukup Modal Smartphone Canggih?

Bisa disimpulkan, memang menjual produk perawatan bayi tidak semudah yang dibayangkan. Sebab harus ada rasa aman untuk keluarga dan jaminan keamanan itu sangat mahal. Inilah yang diungkap Felicia, jadi kewajiban dari setiap elemen masyarakat itu baik media, badan usaha, pemerintah untuk mengedukasi dan membantu untuk mencapai target-target tersebut.

Menurut Felicia, sudah banyak orangtua yang mulai melek dengan kandungan yang terdapat dalam produk perawatan bayi. Merk besar dan terkenal tidak melulu menjadi pilihan utama para orang tua, karena sebenarnya ada kandungan yang berbahaya yang beredar bebas di pasaran.

“Kita harus mengalahkan itu (masifnya produk dan informasi yang salah). Sementara mereka bisa konten setiap hari untuk mengejar trendingnya itu, sementara brand kan nggak bisa bikin konten semasif dan secepat itu. Kalau dari sisi brand, kita usaha mesti berpuluh-puluh kali lipat untuk mengalahkan algoritma dari berbagai platform. Sebab kan nggak bisa melawan arus informasi, brandnya yang harus kerja keras,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini