nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Burung Elang pada Seleksi Ukiran Pesta Budaya Asmat 2019

Kamis 15 Agustus 2019 12:16 WIB

Asmat merupakan salah satu suku di Papua Selatan yang mendunia sejak era 60-an karena seni pahatnya. Berbeda dengan kebanyakan seni ukir lain, para seniman Asmat memahat tanpa pola yang disiapkan sebelumnya. Lebih dari itu, seni pahat Suku Asmat digemari para pemburu seni karena ukiran yang sarat falsafah hidup dan personifikasi dunia roh.

Sabtu (10/8), panitia Pesta Budaya Asmat 2019 menggelar seleksi perdana di Pirimapun; ibukota Distrik Safan Kabupaten Asmat. Lebih dari 100 seniman-seniwati dari 3 distrik: Safan, Kopay dan Pantai Kasuari mengikuti seleksi dan nominasi ukiran dan anyaman.

Emerickus Sarkol ketua panitia memimpin langsung proses seleksi. "Sebagai seniman, kita harus berjiwa besar menerima hasil seleksi. Bila Anda tidak lolos maka harus mengakui kelebihan seniman lain dan menyiapkan hasil karya terbaik untuk tahun berikit," kata Erick di awal kegiatan.

Bertempat di lapangan Gereja Katolik Pirimapun, para 'wowipits,' sebutan khas seniman pahat Asmat menanti penuh harap siapa yang ternominasi. Setelah 3 jam akhirnya 35 ukiran terbaik dan 12 kerajinan tangan ibu-ibu siap mewakili ketiga distrik menuju puncak festival yang akan digelar di Agats; ibukota Kabupaten Asmat, pada 20-26 November mendatang.

Wajah Kaspar Kurum berseri-seri. Dia mengelus-elus karyanya usai nomor 019 dijatuhkan Erick Sarkol di atas ukirannya. Seniman muda asal Kampung Yaptambor Distrik Safan ini kemudian membawa jenis patung cerita itu kepada panitia untuk didata dan dokumentasi.

Ukiran yang terbuat dari kayu besi tersebut terinspirasi dari legenda Rumpun Safan; Kelompok Suku yang tersebar di wilayah Pantai laut Arafura. Kurum, bapak dua anak ini pun menjelaskan. "Saya punya ukiran ini tentang dua moyang (adik-kakak) yang menjelma menjadi 'War' (Burung Elang) dan membangkitkan kembali seorang anak perempuan bernama Sisi.

Waktu itu, Kurum menjelaskan, Sisi yang sedang sakit dibawa mamanya Wamonot dan bapaknya Birinamot ke bevak (pondok) dekat pantai. Sisi yang sakit berat kemudian meninggalkan. Kedua orang tua berlari ke bibir pantai dan menangis tersedu-sedu sambil memanggil minta tolong.

Beberapa saat kemudian dua burung Elang War (kakak) dan Yakane (adik) terbang dan hinggap tepat di sisi jenasah. Si War mengeluarkan 'Erampok' ramuan dari tas yang disebut Esaka yang digantung di lehernya lalu menghidupkan Sisi. Seniman Kurum secara detail memperlihatkan peristiwa itu pada ukirannya.

Pada sisi kiri, tampak War sedang 'menarik' roh Sisi yang sudah meninggal untuk dihidupkan kembali dibantu bapak Sisi. Sebelah kanan Wamonot memegang kepala Sisi yang perlahan-mulai bernapas dan membuka matanya.

Seleksi ukiran dan anyaman akan berlangsung sampai 24 Agustus di distrik lain dengan menargetkan lebih dari 200 ukiran terbaik dan sejumlah kerajinan tangan seniwati yang akan memeriahkan Pesta Budaya Asmat ke-34 akhir November mendatang.

Meski belum ada pengumuman resmi tapi panitia sudah mengumumkan seniman dan warga yang hadir bahwa mulai tahun 2019 ini nama event "Pesta Budaya Asmat" yang dipakai sejak 1992 diganti nama menjadi FAP (Festival Asmat Pokman). Pokman adalah kata bahasa Asmat yang berarti hasil karya sehingga FAP adalah Festival tentang karya seni Suku Asmat dan suku-suku lokal lain di wilayah Kabupaten Asmat. (Foto: John Ohoiwirin)

()

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini